memiliki dua sifat dalam satu raga
bukanlah hal mudah bagiku, namun bukan pula hal yang aku benci bahkan
ingin ku buang, ini adalah suatu anugerah yang semestinya aku sukuri
karena belum tentu orang lain akan memiliki apa yang ada pada kehidupan
ku ini. banyak yang mengatakan aku adalah orang yang egois yang gak
pernah memikirkan apa yang orang lain katakan, namun disisi lain aku
juga selalu merasa bahwa aku terlalu peka terhadap apa yang orang lain
alami, tetapi aku selalu tidak bisa merealisasikan kepekaan ku itu
menjadi perbuatan yang semestinya aku lakukan.
ya inilah diriku terlahir sebagai
orang yang harus menghadapi apa yang terjadi seorang diri, belum ada
yang bisa membuat ku nyaman dan tenang ketika aku berada di satu tempat
atau pun dengan seseorang, hatiku terlalu banyak menyimpan dendam yang
entah pada siapa harus aku lampias kan dan dengan cara apa aku
melakukannya.
apa yang aku
pikirkan tak pernah sejalan dengan apa yang ada dalam hatiku, terlalu
naif diri ini jika aku tak menginginkan kebahagiaan, namun apa yang
selama ini aku lakukan belum pernah menemukan kebahagiaan yang aku
inginkan, bahkan aku sendiri pun tak mengetahui apa yang ingin aku
lakukan. banyak yang berkata jika melakukan suatu hal, maka lakukan lah
dengan cinta, namun tak begitu banyak yang aku cintai di dunia ini,
melainkan kebencian lah yang lebih banyak dalam diriku ini, kemudian
kejarlah cit-citamu agar apa yang inginkan bisa tercapai, masalahnya
adalah aku tak memiliki cita-cit apapun, melainkan hanya anbisi yang
begitu besar dalam diri ini.
aku
bukan lah orang yang ingin dipuji atau pun dikenal banyak orang,
sehingga aku tak pernah melakukan kegiatan organisasi apapun, apakah itu
yang mungkin membuatku tak pernah tau apa tujuanku, tapi apa
hubungannya? banyak yang bilang keegoisan ku muncul karena aku gak
pernah bisa diajak untuk berorganisasi. sehingga mereka bilang padaku,
"jadi orang itu jangan hanya mikirin diri sendiri, peduliin orang
sekitar, jangan hanya pingin punya nama' tapi apa gak sebaliknya? justru
menurutku merekalah yang ber organisasi yang ingin mencari nama dari
kelompok mereka, dengan tidak langsung mereka selalu memunculkan ide
yang mereka miliki untuk bisa diterima oleh orang lain, dan mereka pun
mungkin hanya akan memikirkan kelompok mereka
sendiri. ya mungkin itu lah sedikit pikiran buruk ku tehadap suatu organisasi.
sendiri. ya mungkin itu lah sedikit pikiran buruk ku tehadap suatu organisasi.
kembali pada keadaan diriku yang
sulit dimengerti ini, aku terlahir dari orang tua yang memiliki sifat
bertolak belakang, yang satu lemah lembut dan yang satu lagi keras dan
tegas, namun bukan berarti diktator yang mirip Adolf Hitler, namun
sayang nya mereka hanya bisa mendidik ku sampai aku sekolah dasar saja,
selanjutnya aku dididik oleh seorang kakek yang sifatnya mirip Hitler
itu, terkadang aku benci dengannya karena keputusan yang ia buat mesti
itu keputusan final. bahkan akupun sampai gak ngerasain masa kecil. masa
kecilku gak begitu menyenangkan karena harus mengikuti apa yang kakek
mau, coba pikir aja, kehidupan milenium masa iya mau disamakan dengan
kehidupanya pada masa penjajahan belanda, sangat tidak aku harapakan
mengenai hal itu, namun arti penting dari pendidikan yang diberikan itu
yang mirip Hitler menurutku, aku dapat menemukan arti dari kedisiplinan
yang tadinya paling aku benci, terutama tentang waktu.
namun cerita sesungguhnya bukan
lah hal itu, karena yang aku suguhkan adalah kebencian, aku merasa
seperti orang hilang ketika sedang berfikir tentang hidupku, bukan hal
yang mudah melakukan menaklukan diri sendiri karena itu lah musu
sebenarnya. jika ada orang yang harus ku benci yaitu diriku sendiri,
jika ada orang yang harus aku sayangi yaitu diriku sendiri dan jika ada
orang yang harus ku bunuh adalah diriku sendiri.
inilah takdirku, dari debu menjalani kehidupan dan kembali menjadi debu, :Bonito Musollini









0 komentar:
Posting Komentar