Hari-hari yang
kulalui saat ini terasa semakin berat, walaupun ada inspirasi dan pemberi
semangat yang datang, ya dia memang datang ketika aku sedang merasa hari-hariku
semakin suram, namun pertanyaannya
adalah, apakah dia itu merasa sebagai penumbu semangatku atau tdak?
Mungkin ni salah ku, mengapa aku harus memiliki rasa yang seperti ini namun apakah ini juga salah jika ini
terjadi pada anak adam yang menyukai pada sosok keurunan siti hawa? Jika ini
hanya rasa yang tak akan terwujud, aku cukup bahagia bisa mengenal dan dekat
dengannya, sosok yang agamis dan periang.
Namun jika ini
bisa terwujud, lengkaplah kebahagiaanku cit-citaku bisa menjadi kenyataan dan
mungkin kenapa aku dari dulu ingin sekali pergi dari tempat ini yang penuh
dengan hiruk pikuk yang sangat membisingkan telinga juga membuat kepala terasa
sangat penat. Namun bukan Agam namanya jika harus meyerah di tengah waktu dan
abad yang terus menggila ini, zaman boleh berubah dan semua berpendapat bahwa
kita harus mengikuti kemajuan zaman yang semakin pesat ini, ya memang benar
kita harus mengikuti kemajuan zaman, tapi apakah semuanya harus diikuti?
Menurutku tidak juga, aku akan tetap pada pendirianku, aku punya hidup yang
zaman tidak bisa mengalahkannya , mungkin setiap orang ingin merubah dunia,
tapi mungkin juga tak seorang pun yang ingin merubah dirnya, jati diri telah
terukir sejak kita dalam kandungan ibu, apakah kita rela membiarkanya hilang
begitu saja?
Yang bisa kita
rubah adalah sikap kita terhadap kehidupan yang sekarang ini, bukan pada
pendirian kita, pendirian boleh teguh, namun juga harus elastic, tak apa orang
lan bilang kita tidak punya pendirian, justru itu lah pendirian kita mengikuti
apa yang ada, smeua punya cara untuk menjalani hidup kita saat ini, jangan
mudah terpengaruh oleh omongan kosong orang lain dan juga jangan menutup
telinga terhadap pendapat orng lain, hal sepele bisa me
mbuat kita sukses dan juga sebalikbya.
mbuat kita sukses dan juga sebalikbya.
Kesuksesan kita
tercipta dari kita sendiri sebesar apa kita mengingikannya dan sebesar apa juga
kita merealisasikan ha itu untuk menjad nyata, ingat juga keika kita sudah
mencapai titik terlemah dalam diri kita, justru
disana lah awal kesuksesan kita ketika kita mampu melewati kelemahan
kita tersebut. Jangan hanya memandang kehidupan dari satu sisi saja, banyak ha
yang perlu kita lihat dari kehidupan ini, kita bisa merasakan bagaimana
bergantinya siang dan malam? Itu adalah gambaran nyata dimata hidup kita tidak
hanya dalam satu waktu. Jangan terlena oleh siang yang terang benderang karena
tak selamanya hari akan siang, jangan juga terpuruk o;eh malam yang pekat,
karena setiap habis malam akan terbit pulalah mentari yang akan mengawali
hari-hari kita, begitu juga sebaliknya.
“egois itu diperlukan pada waktunya, tidak
selamanya kita harus terus mengalah pada orang lain”.
Dan ketika kehidupan memberikan seribu alasan untuk kita menangis, ingat diri kita masih mempunyai sejuta alasan untuk kita tetap tersenyum. Yang tau diri kita adalah kita sendiri, sahabat sejati, kakasih dan musuh kita adalah diri kita sendiri. So jika ingin merubah dunia luar, maka mulailah dari diri kita, awali dari diri sendiri dan salurkan kepada orang lain.
Dan ketika kehidupan memberikan seribu alasan untuk kita menangis, ingat diri kita masih mempunyai sejuta alasan untuk kita tetap tersenyum. Yang tau diri kita adalah kita sendiri, sahabat sejati, kakasih dan musuh kita adalah diri kita sendiri. So jika ingin merubah dunia luar, maka mulailah dari diri kita, awali dari diri sendiri dan salurkan kepada orang lain.







0 komentar:
Posting Komentar